Rabu, 03 Mei 2017

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN UNTUK MENENTUKAN MAHASISWA LULUSAN TERBAIK PADA PERGURUAN TINGGI MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)



Pada zaman yang semakin maju dan berkembang ini, salah satu tujuan kegiatan pendidikan dan pengajaran di perguruan tinggi adalah menghasilkan lulusan yang berkualitas yang memiliki hard skills dan soft skills yang seimbang, sehingga mahasiswa dituntut agar dapat tetap aktif dan memiliki prestasi baik di bidang akademik maupun non-akademik, ekstra dan intra kurikuler. Oleh sebab itu, dalam sebuah perguruan tinggi perlu dididentifikasi mahasiswa yang dapat melekukan hal tersebut dan perlu diberikan sebuah apresiasi atau penghargaan sebagai mahasiswa yang berprestasi, yakni dengan melakukan pemilihan mahasiswa berprestasi pada  ttingkat perguruan tinggi. 
Untuk melakukan proses penyeleksian untuk menentukan mahasiswa yang berprestasi pada tingkat perguruan tinggi ini, tidak semua perguruan tinggi melakukan proses seleksinya secara efektif dalam melakukan pengambilan keputusan. Oleh sebab itu, masih ada beberapa perguruan tinggi lain yang masih mengalami kendala pada proses hasil pengambilan keputusan. Hal ini dikarenakan belum adanya metode yang objektif untuk memutuskan dengan cepat siapa mahasiswa yang berhak mendapatkan beasiswa dari data-data yang telah ada pada perguruan tinggi tersebut.
Untuk mengatasi  masalah tersebut, maka dibutuhkan suatu metode yaitu Metode Analytical Hierarcy Process (AHP). Metode ini merupakan salah satu metode yang digunakan untuk penyelesaian sistem pengambilan keputusan. Pada metode AHP ini, terdapat 2 mekanisme yang dapat digunakan dalam penghitungan AHP yakni metode konvensional (manual), baik menggunakan teknik normalisasi maupun tidak dan menggunakan perangkat lunak. Dalam pelaksanaannya, pemilihan mahasiswa berprestasi ini menggunakan beberapa komponen atau kriteria yang nantinya akan dinilai untuk pengambilan keputusan. Setiap alternatif membawa konsekuensi-konsekuensi. Hal ini dapat disimpulkan bahwa sejumlah alternatif itu berbeda antara konsekuensi yang satu dengan konsekuensi yang lain.
Proses pemilihan mahasiswa berprestasi merupakan permasalahan yang melibatkan banyak komponen atau kriteria yang dinilai, sehingga dalam penyelesaiannya diperlukan sebuah sistem pendukung keputusan dengan multikriteria. Salah satu metode sistem pendukung yang multikriteria yaitu Analytical Hierarchy Process atau yang sering disebut dengan metode AHP. Menurut Syaifullah (2010), dalam internetnya yang berjudul “Pengebalan Motede AHP (Analytical Hierarchy Process)” menyatakan AHP merupakan suatu model pendukung keputusan yang dikembangkan oleh Thomas L. Saaty. Model pendukung keputusan ini akan menguraikan masalah multi faktor atau multikriteria yang kompleks menjadi suatu hirarki. Hirarki didefinisikan sebagai suatu representasi dari sebuah permasalahan yang kompleks dalam suatu struktur multi level dimana level pertama adalah tujuan, yang diikuti level faktor, kriteria, sub kriteria, dan seterusnya ke bawah hingga level terakhir dari alternatif (Saaty, 1993). Dengan hirarki, suatu masalah yang kompleks dapat diuraikan ke dalam kelompok-kelompoknya yang kemudian diatur menjadi suatu bentuk hirarki sehingga permasalahn akan tampak lebih terstruktur dan sistematis.  AHP sering digunakan sebagai metode yang digunakan untuk pemecahan masalah dibanding dengan metode yang lain karena beberapa alasan sebagai berikut :
1.      Struktur yang berhirarki, sebagai konsekunsi dari kriteria yang dipilih sampai dengan kriteria yang paling dalam.
2.      memperhitungkan daya tahan output analisis sensitivitas pengambilan keputusan.

Karena sulitnya menentukan bobot-bobot ataupun prioritas-prioritas yang sering berubah-ubah, maka dari itu perlu digunakan pebandingan berpasangan yang menggunakan data, pengetahuan dan pengalaman untuk merubah prioritas. Ada kalanya dalam menentukan satu orang sebagai lulusan terbaik diantara sekian banyak lulusan bukanlah pekerjaan yang mudah. Tanpa kriteria yang jelas dan transparan, maka proses membuat keputusan lulusan terbaik dapat menimbulkan kesalahan yang akhirnya dapat merugikan berbagai pihak khususnya bagi para mahasiswa dalam suatu perguruan tinggi. Dengan menggunakan metode AHP sebagai metode dalam pengambilan keputusan dapat digunakan untuk memudahkan pengambilan keputusan dalam menentukan lulusan terbaik disetiap angkatan dengan kritera-kriteria yang telah disusun dengan AHP, karena Metode ini cukup efektif dalam menyederhanakan dan mempercepat dalam proses pengambilan keputusan dengan memecahkan permasalahan yang ada dalam suatu perguruan tinggi tersebut ke dalam bagian-bagiannya.

METODE PENGEMBANGAN SISTEM



A.     METODE SDLC
System Development Life Cycle atau yang sering disebut dengan SDLC merupakan salah satu metode pengembangan sistem informasi dan merupakan suatu penyusunan terhadap sistem yang baru untuk menggantikan sistem yang lama dengan cara memperbaii sistem yang sudah ada sebelumnya.
Terdapat beberapa tahapan-tahapan yang ada pada metode SDLC, diantarannya adalah sebagai berikut :
1.      Perencanaan sistem (Planning)
Pada tahap yang pertama ini lebih menekankan pada studi kelayakan dari pengembangan sistem.
2.      Analisa sistem (Analysis)
Pada tahap ini dilakukan penganalisaan terhadap pengguna akhir dari informasi yang dibutuhkan.
3.      Desain Sistem (design)
Menjelaskan fitur yang diinginkan dan operasi secara rinci, yakni desain tampilan mengenai suatu sistem yang akan dibuat, diagaram proses, pseudocode dan dokumentasi lainnya.
4.      Implementasi Sistem (implementation)
Tahap ini merupakan tahap dimana dilakukan pengimplementasian suatu sistem dari tahap-tahap sebelumnya dan melakukan uji coba terhadap sistem.
5.      Pengujian sistem (testing)
Tahap dimana dilakukan pengujian terhadap sistem yang telah dibuat.
6.      Pengelolaan sistem (maintenance)
Pada tahap ini, yakni dilakukan pengelolaan teradap suatu sistem. Pengelolaan tersebut ditujukan kepada admin yang ditunjuk agar sistem dapat tetap mampu beroperasi secara benar melalui kemampuan sistem sesuai dengan kebutuhan user/pengguna.


B.      METODE WATERFALL
metode waterfall atau yang sering disebut dengan metode air terjun merupakan model yang dikembangkan untuk pengembangan perangat lunak, membuat perangkat lunak. Pengembangan sistem dilakukan secara sistematis dari tahap satu ke ahap yang lain dalam model seperti air terjun.
Tahapan-tahapan yang ada pada metode pengembangan sistem menggunakan metode waterfall, antara lain :
1.      Sistem engineering
Pemodelan ini diawali dengan mencari kebutuhan dari keseluruhan sistem yang akan di aplikasikan ke dalam bentuk software. Hal ini sangat penting, mengingat software harus dapat berinteraksi degan elemen-elemen yang lain seperti hardware, database, dsb. Tahap ini sering disebut dengan Project Definition.
2.      Analisis
Proses pencarian kebutuhan di intensifkan dan difokuskan pada software untuk mengetahui sifat dari program yang akan dibuat.
3.      Desain
Proses digunakan untuk mengubah kebutuhan-kebutuhan diatas menjadi representasi ke dalam bentuk “blueprint” software sebelum coding dimulai.
4.      Coding
Untuk dapat dimengerti oleh mesin, dalam hal ini adalah komputer, maka desain tadi harus diubah bentuknya menjadi bentuk yang dapat dimengerti oleh mesin yaitu kedalam bahasa pemrograman melalui poses coding.
5.      Testing dan implementasi
Sesuatu yang dibuat harslah diuji cobakan, demikian coba dengan software. Seua fungsi-fungsi software harus diuji cobakan.
6.      Pemeliharaan
Pemeliharaan suatu software diperlukan, termasuk didalamnya adalah pengembangan.
Roger S. Pressman(2016)


C.      METODE PROTOTYPING
Prototyping adalah proses pengembangan sistem dimana requirmen diubah ke sdalam sistem yang bekerja yang secara terus menerus diperbaiki melalui kerjasama antara user dan analis.
Tahapan-tahapan yang ada dalam model prototyping :
1.       Pengumpulan kebutuhan
Client dan pengembang (programer maupun analisis sistem) mendefinisikan format seluruh perangkat lunak, mengidentifikasikan emua kebutuhan secara garis besar dari sistem yang akan dibuat.
2.      Membangun prototyping
Membagun prototyping dengan membuat perancangan sementara yang berfokus pada penyajian kepada client(membuat input dan format output).
3.      Menggunakan sistem
Pada tahap ini dilakukan oleh client, apakah prototyping yang sudah dibangun sudah sesuai atau belum dengan keinginan atau permintaan client.
4.      Mengkodekan sistem
Prototyping yang sudah disepakati oleh client diterjemahkan ke daam bahasa pemrograman yang telah ditentukan.
5.      Menguji sistem
Setelah sistem sudah menjadi perangkat lunak yang siap pakai, maka sistem tersebut harus dilakukan testing terlebih dahulu sebelum di gunakan.
6.      Evaluasi sistem
Client melakukan pengevaluasian terhadap sistem yang sudah dibangun oleh programmer, apakah sistem tersebut sudah atau belum sesuai dengan yang diharapkan.
7.      Evaluasi prototyping
Tahap yag terakhir yakni sistem atau perangkat lunak yang telah diuji dan diterima pelanggan siap untuk dioperasikan atau digunakan oleh client.


Daftar Pustaka

Cholies, Lies., 2016 “Pengembangan Sistem Informasi Waterfall” Diakses pada tanggal 08 Maret 2017 dari http://cahsisteminformasi.blogspot.com/2016/03/pengembangan-sistem-informasi-waterfall.html

Lauri, Avin., 2013 “Tahapan atau Fase-Fase Sistem Development Life Cycle (SDLC)” Diakses pada tanggal 08 Maret 2017 dari http://avinlauri.blogspot.com/2013/03/tahapanfase-fase-sistem-development.html

Saputra, Dani., 2012 “Metode Pengembangan Sistem Informasi” Diakses pada tanggal 09 Maret 2017 dari http://danylukman.blogspot.co.id/2012/10/metode-pengembangan-sistem-informasi.html